Aku adalah api di lumbung yang basah,
susah payah menahan kobar di tengah lembab
Aku menjelma menjadi jemari yang berisik,
mencaci kebiadaban di sela bisu mulut para raja yang bersantai di singgasana
Aku adalah cinta yang penuh sabda, menguasai nurani, berteriak hingga serak meski kuping mereka tertutup kepentingan duniawi
Botol berisi gandum itu kutitipkan pada gelombang, hingga sampai ke tepi pantai Gaza
sebab Rafah telah beralih menjadi jeruji yang mengurung saudaraku hingga mati
Aku melihat pemimpin Permata Sungai Nil bersulang dengan entitas kolonial,
lantas bersalaman dengan patuh
sejak itu, sayap dan cakarnya patah lunglai
Tapi aku tetap menjadi pena, menggurat napas perlawanan
di gaduhnya kontroversi retorika busuk pemimpin dunia
"Two State Solution," kata mereka
lelucon kedaluarsa yang dirangkai dengan dalih keadilan
keadilan yang mana? jika pribumi dipaksa bersanding dengan para pembunuh
"Demi Perdamaian," kata mereka
lembar kecaman diberikan pada media, menjadi headline di kantor berita
sementara di balik meja, pengiriman senjata ke Zionis tetap berjalan
bahkan meningkat
Aku jijik melihat drama para elit politik yang haus akan tepuk tangan
Mataku adalah belati yang membelah kemunafikan para aktor genosida
Palestina memanggil dengan gemuruh bunyi lapar
dari perut-perut kempis yang sekian hari hanya menelan harapan
Ia menyeru dengan darah yang tumpah di ujung jalan
saat mengantre sekantong tepung
Aku menyaut, memenuhi panggilan itu
dengan merayap dan gigil duka lara
Tak banyak bisaku, tapi tangan dan lidah tak akan kubiarkan beku
sampai matahari membawa jingga dengan peluk mesra kemerdekaan
di ufuk selatan Gaza
Bogor, Agustus 2025

Komentar
Posting Komentar