Langsung ke konten utama

Aku adalah Api

Aku adalah api di lumbung yang basah,

susah payah menahan kobar di tengah lembab


Aku menjelma menjadi jemari yang berisik,

mencaci kebiadaban di sela bisu mulut para raja yang bersantai di singgasana


Aku adalah cinta yang penuh sabda, menguasai nurani, berteriak hingga serak meski kuping mereka tertutup kepentingan duniawi


Botol berisi gandum itu kutitipkan pada gelombang, hingga sampai ke tepi pantai Gaza

sebab Rafah telah beralih menjadi jeruji yang mengurung saudaraku hingga mati


Aku melihat pemimpin Permata Sungai Nil bersulang dengan entitas kolonial,

lantas bersalaman dengan patuh

sejak itu, sayap dan cakarnya patah lunglai


Tapi aku tetap menjadi pena, menggurat napas perlawanan

di gaduhnya kontroversi retorika busuk pemimpin dunia


"Two State Solution," kata mereka

lelucon kedaluarsa yang dirangkai dengan dalih keadilan 

keadilan yang mana? jika pribumi dipaksa bersanding dengan para pembunuh 


"Demi Perdamaian," kata mereka

lembar kecaman diberikan pada media, menjadi headline di kantor berita

sementara di balik meja, pengiriman senjata ke Zionis tetap berjalan 

bahkan meningkat 


Aku jijik melihat drama para elit politik yang haus akan tepuk tangan 

Mataku adalah belati yang membelah kemunafikan para aktor genosida


Palestina memanggil dengan gemuruh bunyi lapar

dari perut-perut kempis yang sekian hari hanya menelan harapan

Ia menyeru dengan darah yang tumpah di ujung jalan

saat mengantre sekantong tepung


Aku menyaut, memenuhi panggilan itu

dengan merayap dan gigil duka lara 


Tak banyak bisaku, tapi tangan dan lidah tak akan kubiarkan beku 

sampai matahari membawa jingga dengan peluk mesra kemerdekaan

di ufuk selatan Gaza


Bogor, Agustus 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adonara, Tanah Lebih Mahal Daripada Darah

Anak pulau mendengar kabar Ada mayat mati terkapar Adonara, Tanah Tumpah Darah Darah Tumpah Karena Tanah KEMARIN , berita muncul di linimasa, enam nyawa hilang di ujung tombak. Darah kembali tumpah, lagi dan lagi karena masalah yang itu-itu saja. Bukan hal baru di telinga kita, bahwa persoalan hak tanah berujung pertikaian. Korban berjatuhan, anak jadi yatim, ibu jadi janda. Seorang misionaris asal Belanda, Ernst Vatter dalam bukunya "Ata Kiwan" yang terbit pada 1932 melukiskan Adonara adalah Pulau Pembunuh (Killer Island). Dalam bukunya itu, Vatter menulis "Di Hindia Belanda bagian timur tidak ada satu tempat lain di mana terjadi begitu banyak pembunuhan seperti di Adonara. Hampir semua pembunuhan dan kekerasan, penyerangan dan kejahatan-kejahatan kasar lain, yang disampaikan ke Larantuka untuk diadili, dilakukan oleh orang-orang Adonara." BACA JUGA: Masa Depan Anak Pesisir Adonara Hmm... dari pernyataan tersebut, tidak dapat dipungkiri ba...

Tenun Kwatek, Karya Tangan Perempuan Adonara

   Kwatek Adonara saat dikenakan Penulis SUDAH tidak asing lagi jika kita mengetahui bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki kain tradisional. Begitu pula di Pulau Adonara. Pulau ini menjadi salah satu daerah yang memiliki kain tenun sebagai kain tradisionalnya. Pulau Adonara sendiri terletak di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Bagi masyarakat Adonara, tenun ini dipakai dalam berbagai acara seperti upacara adat, pernikahan, pemakaman, dan hari-hari besar lainnya, baik hari besar nasional ataupun hari besar agama. Selain itu, kain tenun ini juga dikenakan sehari-hari oleh masyarakat Adonara dan dijadikan cendramata bagi wisatawan yang berkunjung ke sana.  Tenun Adonara memiliki tiga motif, pertama motif dengan warna-warni bergaris lurus lebar merupakan kain Kewatek (berbentuk seperti sarung), yang kedua motif dengan warna yang monoton serta bergaris lurus kecil-kecil adalah Nowing (berbentuk seperti sarung) dan yang ketiga motif berwarna dan bergaris lurus a...

Kita Tidak Pernah Berjuang Sendirian

KEHIDUPAN ini begitu unik. Tuhan mempunyai beragam cara untuk menunjukkan kebaikan orang lain kepadaku. Saat diri ini merasa dunia begitu kejam dan diriku seolah dipaksa bertahan seorang diri, Tuhan memperlihatkan ada orang-orang baik dengan perlakuan sederhana tapi membuat hatiku berdecak. Ada pengendara motor yang mempersilakanku untuk menyeberang jalan raya, ada seorang perempuan yang rela meminjamkan buku-bukunya untuk kubaca berhari-hari, ada tetangga sebelah yang mau direpotkan berkali-kali hanya untuk memperbaiki laptop usang, ada pemuda jangkung yang bersedia menjadi rekan tukar pikiran hingga tukar perasaan, ada kawan SMA yang mau mengangkat telepon di jam 2 dini hari, ada teman lama yang siap mendengar aku menangis, ada guru yang begitu percaya bahwa diriku punya potensi, tidak lupa ada orang tua yang selalu mengirim doa juga dana tanpa diminta, ada saudara serahim yang selalu siap berbagi kebahagiaan, serta ada banyak manusia baik hati lainnya yang hadir dalam kehidupan uni...