Tuan...
Bukankah di ujung suara itu, pernah kau ikrarkan sebuah kata biru yang memekarkan benih harap?
Mungkin terburu-buru aku meyakini
tak sadar jika yang membumbung bisa menguap begitu saja
Jika benar rasamu seluas samudera, mengapa begitu sunyi derap langkah melaju menuju aku?
Tak kuasa aku menahan lara di tengah gugup jantung yang baru kemarin merona
Bisa-bisanya kau patahkan hati hingga berserak di muka alas
Tuan...
Setelah kubukakan pintu, lantas apa?
Kau bawa sebilah pedang berbisa
Meski telah kukatakan, penawarnya tersaji
Tapi dalamnya sayatan tetap berdarah memerahkan putih kanvas yang baru ingin kutuangkan warna hijau
Aku termangu saat asmamu tak lagi mampir bercerita
Terpaksa aku berkilah soal dada yang sesak
Sebab tak ada yang tahu, aku lemah di kerling matamu
Kudengarkan ulang melodi dari bibirmu yang kurekam diam-diam
Entah untuk siapa lagi akan kau lantunkan
Tapi di detik itu, aku pernah terbius
Harus kusebut kau kejam, Tuan
Menghunus lalu berlalu tanpa tanya
Pedulikah kau sejenak soal bunga yang kau semai hampir setahun lalu?
Sialnya, harus kuakhiri puisi ini
Betapa aksara terlalu pasif mengartikan luka
Ingin kuberteriak bahwa langit yang pernah biru kini membawa dentuman halilintar
(Bogor, 24 Agustus 2025)

Komentar
Posting Komentar