Langsung ke konten utama

Banyak Hal Sederhana yang Luput Kita Syukuri

 

Foto diambil saat hujan dan senyumanmu beradu di sini

"AYO JALAN," ujarnya. Meskipun langit mendung, ia berusaha menunaikan janjinya. Biasalah, bagi seorang perempuan yang akan menggila jika berdiam di rumah saja sepertiku, jalan-jalan adalah suatu kewajiban yang berdosa jika tak ditunaikan.

Tidak jauh, roda doa berputar mengantar kami menuju tempat 'ngopi' yang di sekeliling rumput hijau, asri. Setelah kopi diteguk, air langit turun. Tentu kesal, "baru juga keluar, udah ujan lagi," gumamku.

Kami berteduh, memeluk diri masing-masing untuk menghalau angin yang membawa cipratan hujan.

Kemudian entah dari mana pikiran ini datang, "Mengapa tidak mencoba mensyukuri hujan yang turun karena telah menahan kita untuk lebih lama di sini? Mengapa tidak bersyukur dengan gelas kopi yang sampai tuntas kita teguk bersama? Pada intinya kan kita hanya ingin bersama, bukan tentang mau ke mana."

Ternyata hati lebih tenang jika lapang menerima dan bersyukur dalam setiap keadaan. Kita sering marah karena sibuk mengejar ekspektasi, padahal keindahan bisa datang dari hal-hal sederhana yang melingkari setiap jejak hidup kita. 

Setelah itu, aku diam-diam menatapnya dan tersenyum. Tidak apa-apa hujan, nah toh dia yang berada di sampingku. Entah ke Malioboro atau hanya berjalan di sekitar Boko, nah toh tetap dengannya. Intinya itu kan?



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tenun Kwatek, Karya Tangan Perempuan Adonara

   Kwatek Adonara saat dikenakan Penulis SUDAH tidak asing lagi jika kita mengetahui bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki kain tradisional. Begitu pula di Pulau Adonara. Pulau ini menjadi salah satu daerah yang memiliki kain tenun sebagai kain tradisionalnya. Pulau Adonara sendiri terletak di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Bagi masyarakat Adonara, tenun ini dipakai dalam berbagai acara seperti upacara adat, pernikahan, pemakaman, dan hari-hari besar lainnya, baik hari besar nasional ataupun hari besar agama. Selain itu, kain tenun ini juga dikenakan sehari-hari oleh masyarakat Adonara dan dijadikan cendramata bagi wisatawan yang berkunjung ke sana.  Tenun Adonara memiliki tiga motif, pertama motif dengan warna-warni bergaris lurus lebar merupakan kain Kewatek (berbentuk seperti sarung), yang kedua motif dengan warna yang monoton serta bergaris lurus kecil-kecil adalah Nowing (berbentuk seperti sarung) dan yang ketiga motif berwarna dan bergaris lurus a...

Adonara, Tanah Lebih Mahal Daripada Darah

Anak pulau mendengar kabar Ada mayat mati terkapar Adonara, Tanah Tumpah Darah Darah Tumpah Karena Tanah KEMARIN , berita muncul di linimasa, enam nyawa hilang di ujung tombak. Darah kembali tumpah, lagi dan lagi karena masalah yang itu-itu saja. Bukan hal baru di telinga kita, bahwa persoalan hak tanah berujung pertikaian. Korban berjatuhan, anak jadi yatim, ibu jadi janda. Seorang misionaris asal Belanda, Ernst Vatter dalam bukunya "Ata Kiwan" yang terbit pada 1932 melukiskan Adonara adalah Pulau Pembunuh (Killer Island). Dalam bukunya itu, Vatter menulis "Di Hindia Belanda bagian timur tidak ada satu tempat lain di mana terjadi begitu banyak pembunuhan seperti di Adonara. Hampir semua pembunuhan dan kekerasan, penyerangan dan kejahatan-kejahatan kasar lain, yang disampaikan ke Larantuka untuk diadili, dilakukan oleh orang-orang Adonara." BACA JUGA: Masa Depan Anak Pesisir Adonara Hmm... dari pernyataan tersebut, tidak dapat dipungkiri ba...

Anda Setuju Ibu Kota Negara Pindah?

Sumber: Kompas.com BERITA  tentang pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) begitu ramai menghiasi semua media. Ditambah Rancangan Undang-undang (RUU) IKN yang telah ketok palu menjadi Undang-undang (UU), menimbulkan beragam narasi dari berbagai pihak, baik yang setuju maupun yang bersikeras menolak. Saya rasa, Anda sudah bisa menebak, saya ada di pihak yang mana. UU IKN yang disahkan tiba-tiba, mengejutkan banyak pihak. IKN baru yang ditetapkan di Kota Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur seolah membangunkan berbagai asumsi dan pertanyaan, siapa yang diuntungkan dari pemindahan IKN ini? Proses pengesahan UU IKN yang seolah-olah kejar tayang, sangat jelas mengabaikan aspirasi dan partisipasi masyarakat. Mengutip kalimat Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid dalam Topik Berita Radio Silaturahmi AM 720Khz edisi Rabu (19/1), "UU IKN dibahas terburu buru, bahkan dibahas sampai malam hari, juga tidak mengindahkan begitu banyak masukan dari para pakar." Lihat! Saya tidak sedang mengada-ada...