Langsung ke konten utama

SUARA ORANG TIMUR YANG ADA DI BARAT


Saya selaku orang timur yang ada di barat, saya selaku mahasiswa timur yang kuliah di tanah Jawa, merasa resah dengan kekacauan yang sedang terjadi antara masyarakat Surabaya dan mahasiswa Papua.

Sangat mengecewakan dan menyayat hati ketika saya melihat video terkait yang ternyata di dalamnya terlihat beberapa oknum aparat dan masyarakat Surabaya yang membuat kerusuhan di asrama mahasiswa Papua seraya mengumpat dengan mengatai saudara-saudara kami dengan umpatan "Monyet" "Anjing" dan sebagainya.

Dengan ini, bukan berarti kami membenarkan kejadian pembuangan bendera merah putih di selokan. Tetapi, kami menegaskan bahwa para aparat yang bertugas harus menjalankan tugasnya dengan prosedur. Dengan tata cara yang benar, sehingga tidak terjadi kericuhan semacam ini. Apakah pantas seorang aparat berseragam tentara mengatai rakyat Indonesia sebagai monyet dan anjing??

Apabila memang terbukti ada oknum-oknum dari mahasiswa Papua yang membuang bendera merah putih di selokan, maka tindaklah dengan jalur hukum. Bukan mencaci-maki dengan kata-kata rasis seperti itu. Bekerjalah sebagai seorang abdi negara yang terdidik. Tidak memprovokasi masyarakat. Menyelesaikan masalah, bukan menimbulkan masalah baru.

Logikanya seperti ini, jika kalian mengganggap orang Papua itu monyet, lalu mengapa kalian memaksa mereka untuk mengibarkan bendera? Apa kalian pernah melihat monyet mengibarkan bendera?? Jika ingin Indonesia dihargai, maka tolong layani rakyatnya dengan baik. Kami ingin tahu, kami ini anak siapa. Anak kandung Pertiwi atau hasil dari konspirasi ??

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adonara, Tanah Lebih Mahal Daripada Darah

Anak pulau mendengar kabar Ada mayat mati terkapar Adonara, Tanah Tumpah Darah Darah Tumpah Karena Tanah KEMARIN , berita muncul di linimasa, enam nyawa hilang di ujung tombak. Darah kembali tumpah, lagi dan lagi karena masalah yang itu-itu saja. Bukan hal baru di telinga kita, bahwa persoalan hak tanah berujung pertikaian. Korban berjatuhan, anak jadi yatim, ibu jadi janda. Seorang misionaris asal Belanda, Ernst Vatter dalam bukunya "Ata Kiwan" yang terbit pada 1932 melukiskan Adonara adalah Pulau Pembunuh (Killer Island). Dalam bukunya itu, Vatter menulis "Di Hindia Belanda bagian timur tidak ada satu tempat lain di mana terjadi begitu banyak pembunuhan seperti di Adonara. Hampir semua pembunuhan dan kekerasan, penyerangan dan kejahatan-kejahatan kasar lain, yang disampaikan ke Larantuka untuk diadili, dilakukan oleh orang-orang Adonara." BACA JUGA: Masa Depan Anak Pesisir Adonara Hmm... dari pernyataan tersebut, tidak dapat dipungkiri ba...

Tenun Kwatek, Karya Tangan Perempuan Adonara

   Kwatek Adonara saat dikenakan Penulis SUDAH tidak asing lagi jika kita mengetahui bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki kain tradisional. Begitu pula di Pulau Adonara. Pulau ini menjadi salah satu daerah yang memiliki kain tenun sebagai kain tradisionalnya. Pulau Adonara sendiri terletak di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Bagi masyarakat Adonara, tenun ini dipakai dalam berbagai acara seperti upacara adat, pernikahan, pemakaman, dan hari-hari besar lainnya, baik hari besar nasional ataupun hari besar agama. Selain itu, kain tenun ini juga dikenakan sehari-hari oleh masyarakat Adonara dan dijadikan cendramata bagi wisatawan yang berkunjung ke sana.  Tenun Adonara memiliki tiga motif, pertama motif dengan warna-warni bergaris lurus lebar merupakan kain Kewatek (berbentuk seperti sarung), yang kedua motif dengan warna yang monoton serta bergaris lurus kecil-kecil adalah Nowing (berbentuk seperti sarung) dan yang ketiga motif berwarna dan bergaris lurus a...

Kita Tidak Pernah Berjuang Sendirian

KEHIDUPAN ini begitu unik. Tuhan mempunyai beragam cara untuk menunjukkan kebaikan orang lain kepadaku. Saat diri ini merasa dunia begitu kejam dan diriku seolah dipaksa bertahan seorang diri, Tuhan memperlihatkan ada orang-orang baik dengan perlakuan sederhana tapi membuat hatiku berdecak. Ada pengendara motor yang mempersilakanku untuk menyeberang jalan raya, ada seorang perempuan yang rela meminjamkan buku-bukunya untuk kubaca berhari-hari, ada tetangga sebelah yang mau direpotkan berkali-kali hanya untuk memperbaiki laptop usang, ada pemuda jangkung yang bersedia menjadi rekan tukar pikiran hingga tukar perasaan, ada kawan SMA yang mau mengangkat telepon di jam 2 dini hari, ada teman lama yang siap mendengar aku menangis, ada guru yang begitu percaya bahwa diriku punya potensi, tidak lupa ada orang tua yang selalu mengirim doa juga dana tanpa diminta, ada saudara serahim yang selalu siap berbagi kebahagiaan, serta ada banyak manusia baik hati lainnya yang hadir dalam kehidupan uni...