Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

Berat Nian Menjadi WNI

Bara api menyala di lubuk umat manusia yang lahir di bumi Pertiwi Kaki-kaki berlari laju memenuhi jalanan sebab keadilan tak hinggap ke dapur mereka Ada amarah di setiap derap langkah dan degup nadi  Memaki nasib hidup di Republik Ilusi Perih mataku menangkis kabut pedih yang keluar dari senjata kekuasaan Setelah itu, saudaraku mati dilindas rantis Aku melihat arogansi pejabat menari dengan riang di gedung mewah yang dibangun oleh keringat jelata  Musik mengalun merdu mengelus mesra tubuh yang dibalut lambang borjuis Tak kutemukan tumpukan buku ala Bung Hatta di rumah-rumah para tuan yang katanya mewakili aku Rupanya tak butuh arif nan cerdas untuk membuat Undang-Undang di meja parlemen Hanya cukup culas dan tak tahu malu Tak kudengar susunan tutur kata khas makhluk bermoral yang keluar dari bibir mereka Sebab anggota dewan negeri ini ternyata lebih jago beronani ketimbang berorasi Presiden yang menang karena mahir bergoyang kini muncul di linimasa lewat akun pasangan artis be...

Aksara yang Berdarah

Tuan... Bukankah di ujung suara itu, pernah kau ikrarkan sebuah kata biru yang memekarkan benih harap? Mungkin terburu-buru aku meyakini tak sadar jika yang membumbung bisa menguap begitu saja Jika benar rasamu seluas samudera, mengapa begitu sunyi derap langkah melaju menuju aku? Tak kuasa aku menahan lara di tengah gugup jantung yang baru kemarin merona Bisa-bisanya kau patahkan hati hingga berserak di muka alas Tuan... Setelah kubukakan pintu, lantas apa? Kau bawa sebilah pedang berbisa Meski telah kukatakan, penawarnya tersaji  Tapi dalamnya sayatan tetap berdarah memerahkan putih kanvas yang baru ingin kutuangkan warna hijau  Aku termangu saat asmamu tak lagi mampir bercerita Terpaksa aku berkilah soal dada yang sesak  Sebab tak ada yang tahu, aku lemah di kerling matamu Kudengarkan ulang melodi dari bibirmu yang kurekam diam-diam  Entah untuk siapa lagi akan kau lantunkan  Tapi di detik itu, aku pernah terbius Harus kusebut kau kejam, Tuan Menghunus lalu b...

Aku adalah Api

Aku adalah api di lumbung yang basah, susah payah menahan kobar di tengah lembab Aku menjelma menjadi jemari yang berisik, mencaci kebiadaban di sela bisu mulut para raja yang bersantai di singgasana Aku adalah cinta yang penuh sabda, menguasai nurani, berteriak hingga serak meski kuping mereka tertutup kepentingan duniawi Botol berisi gandum itu kutitipkan pada gelombang, hingga sampai ke tepi pantai Gaza sebab Rafah telah beralih menjadi jeruji yang mengurung saudaraku hingga mati Aku melihat pemimpin Permata Sungai Nil bersulang dengan entitas kolonial, lantas bersalaman dengan patuh sejak itu, sayap dan cakarnya patah lunglai Tapi aku tetap menjadi pena, menggurat napas perlawanan di gaduhnya kontroversi retorika busuk pemimpin dunia "Two State Solution," kata mereka lelucon kedaluarsa yang dirangkai dengan dalih keadilan  keadilan yang mana? jika pribumi dipaksa bersanding dengan para pembunuh  "Demi Perdamaian," kata mereka lembar kecaman diberikan pada media,...