Langsung ke konten utama

Postingan

Apakah Kamu Percaya Dengan Doamu?

Pict : Pinterest SAYA percaya, semua agama dan keyakinan menyuruh kita untuk berdoa. Kecuali jika Anda mengklaim diri Anda adalah atheis, tapi itu urusan Anda, saya tidak ingin ikut campur. Doa merupakan upaya menurunkan ego manusia, sebagai bentuk ketidakberdayaan, sebagai bukti bahwa kita adalah hamba, ya memang kita tidak akan menjadi apa-apa tanpa-Nya. Saya tidak akan berceramah atau memberikan siraman rohani, karena banyak orang enggan menerima nasihat, terlebih dari saya yang bukan siapa-siapa. Saya hanya ingin bertanya, seberapa percaya kamu dengan doa-doamu? Seberapa yakin doamu akan terkabul? Seberapa yakin Tuhan mendengar doamu? Ketika Anda berdoa, berharap suatu kebaikan datang padamu, kemudian Anda mengulang doa yang sama berkali-kali tapi disertai rasa ragu akan tercapai, maka sebaiknya Anda berhenti berdoa. Melakukan sesuatu yang diselimuti kekhawatiran dan sangsi bukanlah hal yang baik. BACA JUGA:  Siapkah Aku Jikalau Waktuku Telah Usai? Mengapa kita harus...

Kehidupan Up Normal

SUDAH  berbulan-bulan kita menjalani kehidupan 'aneh' yang entah kamu menikmatinya atau tidak. masker pelindung wajah sudah jadi outfit wajib yang dibawa serta jika beranjak keluar rumah. Tidak lupa suhu badan harus stabil, di atas 36,5°celcius kamu 'bermasalah'. "Semprot tangan kanan dan kiri, jangan bersalaman apalagi berpelukan, duduk satu meter dariku, jangan mendekat atau kamu akan celaka" Konsep kehidupan dengan penuh ancaman tersebut menjadikan manusia-manusia dihantui rasa takut. Terserah percaya atau tidak soal virus paling 'membagongkan' ini, yang pasti kita berada dalam situasi Up Normal. Lahir literasi-literasi dengan data-data terpercaya yang dibawa oleh aneka ragam orang-orang berpengaruh di bumi ini. Sebagian berpihak pada protokol kesehatan, sebagian lainnya mengatakan bahwa kita tidak bisa merdeka jika menjadi kacung elit global. Saya tidak sedang membahas tentang virus yang  saat ini menguasai media dan isi kepala kalian seba...

Siapkah Aku Jikalau Waktuku Telah Usai?

Bagaimana jika kita dipanggil saat kita belum siap? Bagaimana jika kita harus pulang tapi belum punya apa-apa? Bagaimana jika kita harus beranjak tapi tak ada bekal di tangan? Bagaimana bisa kita begitu angkuh menghadap-Nya dengan catatan baik yang mungkin saja nihil? Kita begitu matang mempersiapkan dengan siapa kita akan hidup bersama, di mana rumah yang megah akan kita bangun, liburan ke mana lagi di pekan ini, barang mewah apalagi yang akan kita beli, dan banyak planning lainnya yang membuat kita lupa bahwa setiap hari kita melangkah menuju kematian, semakin dekat. كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ "Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. dan Kami akan menguji kamu dengan keburukan serta kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan." (Q.S Al-Anbiya: 35) Tak ada yang salah dengan merangkai rencana untuk menjadi apa, dengan siapa di masa depan, hidup memang harus dita...

Untuk Hidup...

UNTUK melanjutkan kehidupan, ada yang harus bergegas berjalan saat fajar belum benar-benar menyala dan pulang saat malam telah datang. Untuk melanjutkan kehidupan, ada yang harus berjemur di bawah terik mentari dengan harapan ada beberapa lembar rupiah yang bisa ditukar dengan sesuap nasi untuk keluarga di rumah. Untuk melanjutkan kehidupan, ada yang rela berbasah-basah dengan peluh demi memberikan senyuman untuk si buah hati. Untuk melanjutkan kehidupan, ada yang berdiri kokoh dihantam badai padahal keriput di pipinya semakin nyata. Untuk melanjutkan kehidupan, ada yang lupa menikmati hari tua, tetap bekerja meski tubuh sudah digerogoti usia.  Jika kamu salah satu dari mereka, tandanya kamu hebat dan kuat. Jika nasibmu ternyata lebih beruntung, semoga tidak membuatmu lupa bahwa ada rezeki orang lain yang dititipkan lewat kamu. Banyak cara Tuhan untuk menunjukkan kasih sayangNya. Sudahkah kita bersyukur? BACA JUGA : Menyepi Sejenak untuk Tenang

Tenun Kwatek, Karya Tangan Perempuan Adonara

   Kwatek Adonara saat dikenakan Penulis SUDAH tidak asing lagi jika kita mengetahui bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki kain tradisional. Begitu pula di Pulau Adonara. Pulau ini menjadi salah satu daerah yang memiliki kain tenun sebagai kain tradisionalnya. Pulau Adonara sendiri terletak di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Bagi masyarakat Adonara, tenun ini dipakai dalam berbagai acara seperti upacara adat, pernikahan, pemakaman, dan hari-hari besar lainnya, baik hari besar nasional ataupun hari besar agama. Selain itu, kain tenun ini juga dikenakan sehari-hari oleh masyarakat Adonara dan dijadikan cendramata bagi wisatawan yang berkunjung ke sana.  Tenun Adonara memiliki tiga motif, pertama motif dengan warna-warni bergaris lurus lebar merupakan kain Kewatek (berbentuk seperti sarung), yang kedua motif dengan warna yang monoton serta bergaris lurus kecil-kecil adalah Nowing (berbentuk seperti sarung) dan yang ketiga motif berwarna dan bergaris lurus a...

Menjadi Indonesia Timur itu Berat, Sayang...

  MENJADI Indonesia Timur itu berat. Kami mengalami berbagai macam stereotype seperti "Miskin", "Bodoh", "Berisik", "Kasar", "Rusuh", "Tertinggal". Tentu masih banyak lagi stereotype yang dilabelkan pada kami. Mungkin stereotypes tersebut dilihat dari fakta beberapa orang Timur yang seperti itu, tetapi mengapa tidak mengambil sampel yang baik. Betapa banyak orang-orang dari Indonesia Timur yang memiliki peran dan mengharumkan nama bangsa. Alm. Glenn Fredly (Musisi), Jonathan Warinussy (Entrepreneur muda), Grandprix Thomryes Marth Kadja (doktor termuda di Indonesia), Prof. DR. Ir. Herman Johannes (Pahlawan Nasional), Alm. Ali Taher Parasong (anggota DPR RI), Johny G. Plate (Menteri Komunikasi dan Informasi RI), Melly Goeslaw (Musisi), Prilly Latuconsina (Aktris), Reza Rahardian (Aktor), Marion Jola (Penyanyi), Andmesh Kamaleng (Penyanyi), Sunny Kamengmau (Pendiri tas Robita), Bara Pattiradja (Penulis), serta masih banyak lagi ...

Nilai sebuah Tulisan

DI TULISAN kali ini, saya tidak ingin membahas apa-apa, hanya sekadar menulis yang entah akan terbaca atau tidak. Jika terbaca pun, saya rasa kamu akan memahami dengan cara pandangmu, tapi tidak masalah, karena setiap tulisan bisa dimaknai dengan berbagai macam sudut pandang, itulah nilai seninya. Mungkin akan sia-sia waktumu melanjutkan bacaan ini, tapi jika kamu memilih untuk terus membacanya, terima kasih, kita memang kawan. Mengapa kita menulis? Setiap manusia di satu titik ingin untuk didengarkan, tapi tidak semua orang mampu menjadi pendengar yang baik, itulah mengapa kita memilih untuk menulis. Tulisan mungkin tidak menyelesaikan masalahmu, tapi ia melegakan bukan? Coba saja. Dengan tulisan kita bisa mengadu tanpa mendengar sanggahan atau perbandingan nasib. Dengan tulisan kita tidak perlu mendengar aneka saran yang ternyata sama sekali tak memperbaiki. Jika kamu bertanya apa nilai sebuah tulisan bagiku, akan ku jawab, "Ia adalah nyawa dari si Penulis." T...