Langsung ke konten utama

Aksara yang Berdarah

Tuan...

Bukankah di ujung suara itu, pernah kau ikrarkan sebuah kata biru yang memekarkan benih harap?

Mungkin terburu-buru aku meyakini

tak sadar jika yang membumbung bisa menguap begitu saja


Jika benar rasamu seluas samudera, mengapa begitu sunyi derap langkah melaju menuju aku?


Tak kuasa aku menahan lara di tengah gugup jantung yang baru kemarin merona

Bisa-bisanya kau patahkan hati hingga berserak di muka alas


Tuan...

Setelah kubukakan pintu, lantas apa?

Kau bawa sebilah pedang berbisa


Meski telah kukatakan, penawarnya tersaji 

Tapi dalamnya sayatan tetap berdarah memerahkan putih kanvas yang baru ingin kutuangkan warna hijau 


Aku termangu saat asmamu tak lagi mampir bercerita

Terpaksa aku berkilah soal dada yang sesak 

Sebab tak ada yang tahu, aku lemah di kerling matamu


Kudengarkan ulang melodi dari bibirmu yang kurekam diam-diam 

Entah untuk siapa lagi akan kau lantunkan 

Tapi di detik itu, aku pernah terbius


Harus kusebut kau kejam, Tuan

Menghunus lalu berlalu tanpa tanya

Pedulikah kau sejenak soal bunga yang kau semai hampir setahun lalu?


Sialnya, harus kuakhiri puisi ini 

Betapa aksara terlalu pasif mengartikan luka 

Ingin kuberteriak bahwa langit yang pernah biru kini membawa dentuman halilintar


(Bogor, 24 Agustus 2025)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adonara, Tanah Lebih Mahal Daripada Darah

Anak pulau mendengar kabar Ada mayat mati terkapar Adonara, Tanah Tumpah Darah Darah Tumpah Karena Tanah KEMARIN , berita muncul di linimasa, enam nyawa hilang di ujung tombak. Darah kembali tumpah, lagi dan lagi karena masalah yang itu-itu saja. Bukan hal baru di telinga kita, bahwa persoalan hak tanah berujung pertikaian. Korban berjatuhan, anak jadi yatim, ibu jadi janda. Seorang misionaris asal Belanda, Ernst Vatter dalam bukunya "Ata Kiwan" yang terbit pada 1932 melukiskan Adonara adalah Pulau Pembunuh (Killer Island). Dalam bukunya itu, Vatter menulis "Di Hindia Belanda bagian timur tidak ada satu tempat lain di mana terjadi begitu banyak pembunuhan seperti di Adonara. Hampir semua pembunuhan dan kekerasan, penyerangan dan kejahatan-kejahatan kasar lain, yang disampaikan ke Larantuka untuk diadili, dilakukan oleh orang-orang Adonara." BACA JUGA: Masa Depan Anak Pesisir Adonara Hmm... dari pernyataan tersebut, tidak dapat dipungkiri ba...

Berat Nian Menjadi WNI

Bara api menyala di lubuk umat manusia yang lahir di bumi Pertiwi Kaki-kaki berlari laju memenuhi jalanan sebab keadilan tak hinggap ke dapur mereka Ada amarah di setiap derap langkah dan degup nadi  Memaki nasib hidup di Republik Ilusi Perih mataku menangkis kabut pedih yang keluar dari senjata kekuasaan Setelah itu, saudaraku mati dilindas rantis Aku melihat arogansi pejabat menari dengan riang di gedung mewah yang dibangun oleh keringat jelata  Musik mengalun merdu mengelus mesra tubuh yang dibalut lambang borjuis Tak kutemukan tumpukan buku ala Bung Hatta di rumah-rumah para tuan yang katanya mewakili aku Rupanya tak butuh arif nan cerdas untuk membuat Undang-Undang di meja parlemen Hanya cukup culas dan tak tahu malu Tak kudengar susunan tutur kata khas makhluk bermoral yang keluar dari bibir mereka Sebab anggota dewan negeri ini ternyata lebih jago beronani ketimbang berorasi Presiden yang menang karena mahir bergoyang kini muncul di linimasa lewat akun pasangan artis be...

Anda Setuju Ibu Kota Negara Pindah?

Sumber: Kompas.com BERITA  tentang pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) begitu ramai menghiasi semua media. Ditambah Rancangan Undang-undang (RUU) IKN yang telah ketok palu menjadi Undang-undang (UU), menimbulkan beragam narasi dari berbagai pihak, baik yang setuju maupun yang bersikeras menolak. Saya rasa, Anda sudah bisa menebak, saya ada di pihak yang mana. UU IKN yang disahkan tiba-tiba, mengejutkan banyak pihak. IKN baru yang ditetapkan di Kota Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur seolah membangunkan berbagai asumsi dan pertanyaan, siapa yang diuntungkan dari pemindahan IKN ini? Proses pengesahan UU IKN yang seolah-olah kejar tayang, sangat jelas mengabaikan aspirasi dan partisipasi masyarakat. Mengutip kalimat Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid dalam Topik Berita Radio Silaturahmi AM 720Khz edisi Rabu (19/1), "UU IKN dibahas terburu buru, bahkan dibahas sampai malam hari, juga tidak mengindahkan begitu banyak masukan dari para pakar." Lihat! Saya tidak sedang mengada-ada...